Skip to main content

Antara Desa dan Kota

By Nurish Hardefty 

Di desa, hijau sawah terbentang,  
Angin sepoi-sepoi membelai dengan tenang.  
Namun di balik senyum manis yang tersaji,  
Lisan terkadang penuh bisik-bisik iri.  
Adab sering terlupa di tengah alur hidup,  
Bicara di belakang, menjatuhkan tanpa sebab.

Sementara di kota Jakarta, gedung menjulang tinggi,  
Orang-orang sibuk, namun tak memendam iri.  
Komplek ramai, tapi hati saling jaga,  
Ramah dalam sapa, meski tanpa banyak kata.  
Tak ada sorotan penuh prasangka,  
Hidup damai tanpa perlu saling cela.

Di desa, kesederhanaan tampak di mata,  
Namun etika kadang tersingkir begitu saja.  
Sedang di kota, hiruk-pikuk tak menghilangkan budi,  
Saling menghormati, menjaga diri tanpa caci.

Ah, perbedaan antara desa dan kota,  
Satu tenang, tapi kadang penuh noda.  
Yang satu ramai, namun hatinya bersih,  
Menyadarkan kita, bahwa adab lebih dari sekadar tradisi.


Comments

Popular posts from this blog

Struggle In The Dark (Novel)

Hanya Tersedia di wattpad sampai chapter ke 13/ 14. 

She's like a flowers (Poems)

She was born like a flower       Beautiful when it blooms with a distinctive fragrance on the face       All eyes on her       Interested and want to have it       Thousands of hands approaching       Just poke       Just looking       And not infrequently those who are desperate to pick it       She is beautiful and smells good       Very valuable to have She's like a flowers        Lavender       Rose       Lily       The sun and wind fall in love with them       Then the rain doesn't want to lose       He drops water as a sacrifice for his love.       Flowers must grow       Beautiful and fragrant       A man's hand is approaching       pluck it       Take it home   ...

Jiwa yang Memilihmu

By Nurish Hardefty  Di antara ribuan langkah pria yang datang, Mereka tampan, mapan, tutur katanya tenang. Namun jiwaku—bukan mata—yang memilih, Pada seorang pria dengan badai dalam dadanya yang tak pernah letih. Kau, Thomas, batu keras dalam samudra, Kadang datang membawa matahari, kadang petaka. Konsistensimu seperti bayang-bayang senja, Dekat, namun tak bisa kupegang lama. Tapi jiwaku, oh jiwaku, Tak pernah bisa pergi jauh darimu. Ada getar yang tak hadir saat pria lain mengetuk, Ada ruang dalam hatiku yang hanya kau yang mampu duduk. Aku tahu cinta bukan hanya tentang kehadiran, Tapi tentang getar yang tak bisa dipalsukan. Kau hadir seperti luka yang kurindukan, Pahit, namun candu dalam keabadian. Mereka datang dengan janji dan arah, Namun hatiku tetap kau yang menjarah. Bukan karena kau sempurna atau setia, Tapi karena jiwaku—meski lelah—tetap memilihmu sebagai rumahnya. Ingin kuubah takdir agar mudah mencintai yang mencintai, Namun jiwa ini tahu: cinta sejati tak pernah bisa ...