Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2024

Peaceful October

By. Nurish Hardefty  Peaceful October Month after month, Year after year, I fought against myself, My brain, my mind, My heart, my emotional feelings, And today, I won.

Me and My endless tiredness

By. Nurish Hardefty In 2017 I stood strong, Living the day like a robot without a soul, Tirelessly until my body rebelled, My glands were swollen, until surgery came as an option and an answer. Year after year I lived, Accompanied by endless storms, My body was weak, my soul was stuck, Withstanding the burden of the world that continued to nail me. 2018 and 2019, the scalpel became a friend, Among tumors and wounds, I faced it alone, Holding tears in the silence. When 2020 greeted me in lonely isolation, Covid came to take away togetherness, My mother and I slumped in a weak body with a cough and a runny nose, Until my Hungarian lover gone and never back. I drowned in a sea of ​​sorrow, Every inch of my body bled, But the storm never stopped, 2021 came with another wound, Breast and intestinal tumors attacked me without mercy, Two months of consecutive surgery became an option, Pain repeatedly after the Moderna vaccine entered, silencing my immune system, All happiness was taken from m...

Aku dan Lelah yang tak bertepi

By. Nurish Hardefty  Di tahun 2017 aku berdiri tegar,   Menjalani hari layaknya robot tanpa jiwa,   Tak kenal lelah hingga tubuhku berontak,   Kelenjarku membengkak, hingga operasi datang sebagai pilihan dan jawaban. Tahun demi tahun kujalani,   Diiringi badai tanpa henti,   Tubuhku lemah, jiwaku terpaku,   Menahan beban dunia yang terus memaku. 2018 dan 2019, pisau bedah jadi teman,   Di antara tumor dan luka,   Sendirian kuhadapi,   Menggenggam tangis di sela-sela sunyi. Ketika 2020 menyapa dalam isolasi sepi,   Covid datang merenggut kebersamaan ,  Ibu dan aku terpuruk dalam tubuh yang lemas batuk dan pilek, Hingga kekasih Hungaria ku pergi tak kembali. Aku tenggelam dalam lautan duka,   Setiap inci tubuhku berdarah,   Namun badai tak henti,   2021 datang membawa luka lain,   Tumor payudara dan usus menyerang ku tanpa belas kasihan, Ope...

Antara Desa dan Kota

By Nurish Hardefty  Di desa, hijau sawah terbentang,   Angin sepoi-sepoi membelai dengan tenang.   Namun di balik senyum manis yang tersaji,   Lisan terkadang penuh bisik-bisik iri.   Adab sering terlupa di tengah alur hidup,   Bicara di belakang, menjatuhkan tanpa sebab. Sementara di kota Jakarta, gedung menjulang tinggi,   Orang-orang sibuk, namun tak memendam iri.   Komplek ramai, tapi hati saling jaga,   Ramah dalam sapa, meski tanpa banyak kata.   Tak ada sorotan penuh prasangka,   Hidup damai tanpa perlu saling cela. Di desa, kesederhanaan tampak di mata,   Namun etika kadang tersingkir begitu saja.   Sedang di kota, hiruk-pikuk tak menghilangkan budi,   Saling menghormati, menjaga diri tanpa caci. Ah, perbedaan antara desa dan kota,   Satu tenang, tapi kadang penuh noda.   Yang satu ramai, namun hatinya bersih,   Meny...

Dalam peluh

Hari ini aku kelelahan,   tenagaku terkuras, hati pun lelah.   Namun di tengah malam, aku terjaga,   Ibu berak di kasur, tanpa daya. Aku membersihkan dengan tangan gemetar,   Bau dan kotor tak lagi kuhiraukan.   Ini bukan sekadar tugas,   Ini cinta yang tak kenal batas. Tanganku mungkin letih,   Tapi hatiku masih kuat berdetak.   Untukmu, Ibu, meski tubuhku rapuh,   Aku akan tetap berdiri, meski dalam peluh. Malam-malam panjang ini penuh dengan luka,   Namun cintaku untukmu takkan pernah sirna.   Sabar yang kupelajari dari tangisanmu,   Dan kekuatan yang lahir dari rasa pilu. Kepada siapa lagi aku bersandar,   Ketika dunia terasa berat terpapar?   Hanya kepada kasihmu, walau kau lemah,   Kau tetap memberiku alasan untuk bertahan. By. Nurish Hardefty