Skip to main content

Ketika Tanah Sunda Dihapus dari Ingatan Sejarah Jakarta

Oleh: Nurish Hardefty 


Jakarta, ex ibu kota Indonesia, kini identik dengan budaya Betawi. Dari ondel-ondel, lenong, tanjidor, hingga lebaran Betawi yang dirayakan besar-besaran setiap tahun — seolah-olah inilah wajah asli kota metropolitan ini.

Namun, jika kita mengulik sejarah dengan jujur dan menyeluruh, ada satu fakta besar yang nyaris dilupakan: sebelum nama Betawi dikenal, bahkan sebelum Batavia dibentuk oleh Belanda, tanah ini adalah bagian dari Kerajaan Sunda.

---

Sunda Kalapa: Jakarta Sebelum Batavia

Jauh sebelum VOC menancapkan kekuasaan kolonialnya pada 1619, wilayah yang kini kita kenal sebagai Jakarta adalah sebuah pelabuhan penting bernama Sunda Kalapa. Kota pelabuhan ini berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda Pajajaran, kerajaan besar yang berpusat di Pakuan (Bogor).

Orang-orang yang mendiami daerah ini adalah etnis Sunda, dan bahasa serta adat Sunda-lah yang mengalir dalam kehidupan masyarakatnya. Mereka adalah petani, nelayan, pedagang, penjaga pelabuhan — pemilik asli tanah ini secara kultural dan geografis.

---

Penjajahan, Perubahan, dan Lahirnya Komunitas Betawi

Ketika Belanda datang dan mengganti Sunda Kalapa menjadi Batavia, mereka membawa ribuan orang dari berbagai etnis untuk dijadikan budak, pekerja, dan tentara:

Dari Nusantara: Jawa, Bali, Ambon, Bugis

Dari luar: Tionghoa, Arab, India, bahkan budak Zanj dari Afrika

Terjadilah asimilasi dan percampuran budaya dalam waktu yang panjang. Anak cucu mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai orang Betawi — sebuah etnis baru yang lahir dari proses sejarah kolonial, bukan etnis asli yang mendiami Jakarta sejak awal.

---

Betawi Diakui, Sunda Dihilangkan?

Dalam dinamika budaya dan politik pascakemerdekaan, identitas Betawi kemudian diangkat sebagai “penduduk asli Jakarta.” Pemerintah provinsi, media, hingga kurikulum pendidikan cenderung menghapus jejak Sunda sebagai penghuni awal wilayah ini.

Pakaian adat Betawi dikenakan dalam seremoni resmi. Jalan-jalan besar dinamai tokoh Betawi. Acara budaya diwarnai dengan ikon-ikon Betawi. Tapi di mana jejak Sunda Kalapa?

Orang Sunda di Jakarta perlahan terpinggirkan, melebur menjadi “warga biasa,” tanpa identitas budaya yang diakui secara lokal.

---

Mengapa Ini Penting?

Tulisan ini bukan untuk merendahkan budaya Betawi. Sebaliknya, Betawi adalah kekayaan budaya hasil percampuran sejarah yang luar biasa. Namun, meninggikan Betawi sambil melupakan Sunda adalah ketidakadilan sejarah.

Jakarta bukan “kota tanpa akar.”

Jakarta bukan “kota ciptaan VOC.”

Jakarta dulu adalah bagian dari tanah Sunda. Dan etnis Sunda adalah pemilik pertama sejarahnya.

---

Saatnya Mengakui Sejarah yang Lebih Tua

Mengakui bahwa Sunda adalah etnis lokal asli Jakarta bukan berarti menyingkirkan Betawi. Justru, dengan menyadari sejarah ini, kita bisa membangun kesadaran yang lebih adil: bahwa Jakarta lahir dari banyak lapisan, dan lapisan paling dasar itu adalah Sunda Kalapa.

Sudah saatnya:

Kita mengembalikan narasi Sunda dalam sejarah Jakarta.

Menjadikan nama-nama Sunda bagian dari ruang publik Jakarta.

Menghormati budaya Sunda sebagai akar, bukan sekadar tetangga.

---

✍️ Penutup

Budaya Betawi mungkin ramai di jalanan ibu kota. Tapi bila kamu menggali tanah Jakarta, kamu akan menemukan lapisan yang lebih dalam — lapisan Sunda yang terlupakan.

Jakarta bukan hanya kota urban modern. Ia adalah tanah leluhur yang telah lama berbicara dalam bahasa Sunda, jauh sebelum kamu mengenalnya sebagai ibu kota.

Comments

Popular posts from this blog

"Pajak Tinggi, Tapi Rakyat Indonesia Masih Menderita: Mengapa Indonesia Tidak Sejahtera Seperti Negara Lain?"

Pajak Tinggi, Tapi Rakyat Menderita: Mengapa Indonesia Tidak Sejahtera Seperti Negara Lain? Indonesia adalah negara dengan sistem perpajakan yang cukup ketat . Dari pajak penghasilan, PPN, pajak kendaraan, hingga PBB, rakyat dibebankan berbagai jenis pajak untuk mengisi kas negara . Sayangnya, meskipun pajak terus meningkat, layanan yang diterima rakyat tidak sebanding. Jika dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Norwegia, Swedia, atau Jerman , yang juga memiliki pajak tinggi, rakyat mereka justru menikmati pendidikan gratis, layanan kesehatan berkualitas, dan jaminan sosial yang kuat. Lalu, mengapa di Indonesia pajak tinggi tetapi kesejahteraan rakyat masih jauh tertinggal? --- 1. Pajak Tinggi di Indonesia, Tapi Ke Mana Uangnya? Di banyak negara maju, pajak yang tinggi digunakan untuk membiayai layanan publik. Namun, di Indonesia, meskipun rakyat membayar banyak pajak, mereka masih harus membayar sendiri pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan lainnya. Beberapa fakta ...

Siapa Negara Penghasil Nikel Terbesar ?

Negara-negara dengan sumber daya alam (SDA) nikel paling banyak di dunia bisa dilihat dari cadangan nikel terbukti dan juga produksi tahunan nikel. Berikut adalah daftar negara dengan cadangan nikel terbanyak (data per 2024): 🌍 Negara dengan Cadangan Nikel Terbanyak (Estimasi dalam juta ton) 1. Indonesia 🇮🇩 Cadangan: ±21 juta ton Keterangan: Merupakan produsen dan eksportir nikel terbesar dunia. Banyak digunakan untuk industri baterai kendaraan listrik. 2. Australia 🇦🇺 Cadangan: ±20 juta ton Keterangan: Memiliki cadangan besar tetapi tidak sebanyak Indonesia dalam produksi tahunan. 3. Brasil 🇧🇷 Cadangan: ±16 juta ton Keterangan: Banyak proyek tambang besar sedang dikembangkan. 4. Rusia 🇷🇺 Cadangan: ±7 juta ton Keterangan: Punya perusahaan besar seperti Norilsk Nickel. 5. Filipina 🇵🇭 Cadangan: ±4,8 juta ton Keterangan: Eksportir utama ke China, namun mengalami isu lingkungan. 6. Kuba 🇨🇺 Cadangan: ±5 juta ton Keterangan: Salah satu pemasok penting untuk pasar global. 7. K...

Cinta Yang Ingin Kuteriakkan

By Nurish Hardefty  Ada cinta yang ingin kuteriakkan, tapi tertahan di antara tanggung jawab dan luka yang tak sempat kupulihkan. Bibirku bisu oleh ego, padahal hatiku menjerit, ingin dipeluk oleh seseorang yang mengerti rintih paling dalam itu. Sayang, andai kau tahu… bukan karena aku tak ingin mencintai, tapi karena aku takut mencintaimu lebih dari diriku sendiri. Aku lelah. Bukan pada cinta, melainkan pada hidup yang menolak memberi aku ruang untuk merasa bahagia sepenuhnya. Ada ibu yang sakit, ada tugas yang tak bisa kupaksa lenyap, sementara hasratku menjadi perempuan yang dicintai terus mengecil, tenggelam dalam rutinitas yang tak manusiawi. Haruskah aku memilih? Diriku sendiri, atau pengorbanan ini? Ataukah, tetap terdiam dalam dilema yang tak kunjung usai, dan membiarkan hatiku perlahan mati dalam senyuman yang dibuat-buat tiap pagi? --- The love I want to shout By Nurish Hardefty  There is a love that I want to cry out, but was held back between responsibilities and w...