Skip to main content

Ketika Ibu Lanjut usia ,Anak saling melempar tanggung jawab.


Berdasarkan pengalaman pribadi yang sedang saya hadapi saat ini, dimana saya berjuang seorang diri selama dua tahun tiga bulan dalam merawat dan menafkahi ibu saya yang sakit dan berusia 59 tahun. 
Ibu saya tidak pernah menikah lagi setelah ayah saya berkhianat dari kami dan menelantarkan kami begitu saja, sehingga masa muda ibu saya habis hanya untuk mencari uang dan hidup berjauhan dari anak-anaknya. 
Hal ini membuat masa kecil saya dan kakak saya sampai dewasa hidup mandiri tanpa asuhan kedua orang tua dan berdampak kurangnya ikatan emosional antara anak dengan orang tua karena kurangnya perhatian, waktu kebersamaan dan hal lainnya yang kami butuhkan saat kanak-kanak.

Hal ini terasa sekali ketika ibu saya mulai menua dan tidak mampu lagi bekerja mencari uang, kakak laki-laki saya jauh lebih memprioritaskan dirinya sendiri, istri, ketiga anaknya dan juga keluarga dari pihak istrinya, sehingga Ia enggan bertanggung jawab akan ibu kandungnya sendiri. 

Dengan situasi seperti ini, mau tidak mau, suka tidak suka saya harus meninggalkan kehidupan pribadi, impian, kehidupan percintaan dan hal lainnya demi merawat ibu yang sakit.

Saya terheran kenapa kakak saya bersikap begitu jahat terhadap ibu kandungnya yang sakit dan sudah lanjut usia, sementara jasa beliau lah yang bertarung dengan kehidupan untuk menafkahi kami dan membiayai sekolah kami semampunya beliau. Meskipun tidak sesempurna kehidupan orang lain, setidaknya ibu tidak lepas akan tanggung jawab sebagai orang tua. 
Jika diberikan pilihan saya yakin isi hati ibu saya ingin sekali Ia hidup bersama anak-anaknya tanpa harus berjauhan hanya karena tanggung jawab mencari nafkah untuk anaknya tetap bisa bertahan hidup dan mendapatkan pendidikan yang seharusnya itu menjadi tanggungjawab ayah kami.

Dewasa ini banyak sekali anak-anak menelantarkan orang tuanya yang sudah lanjut usia, tidak berpenghasilan dan sakit-sakitan. Entah karena perlakuan orang tuanya yang kejam di masa anak tumbuh kembang sehingga orang tua memetik karma buruknya atau memang karena anak tersebut yang dengan sadar enggan berbakti kepada orang tuanya.

Fenomena ini sering kali terjadi karena berbagai faktor, baik dari segi budaya, psikologis, maupun pola asuh yang membentuk anak laki-laki dan perempuan dengan tanggung jawab yang berbeda:

1. Norma Sosial dan Budaya
Di banyak budaya, termasuk Indonesia, peran perempuan sering dianggap sebagai "penjaga keluarga" atau "perawat," sementara laki-laki lebih diharapkan untuk menjadi pencari nafkah. Akibatnya, anak laki-laki merasa tugas merawat orang tua adalah tanggung jawab perempuan, meskipun kenyataannya tidak ada aturan yang mewajibkan hal itu.

2. Pola Asuh Keluarga
Banyak keluarga membesarkan anak laki-laki dengan cara yang berbeda dari anak perempuan. Anak laki-laki sering kali tidak diajarkan atau diminta untuk melakukan pekerjaan rumah tangga atau merawat anggota keluarga, sehingga mereka tumbuh dengan kurangnya empati atau keterampilan dalam hal ini.

3. Perbedaan Prioritas Hidup
Anak laki-laki sering kali merasa bahwa tanggung jawab utama mereka adalah pada karier, istri, dan anak-anak mereka, sehingga mereka kurang memberikan perhatian pada orang tua yang sudah tua. Sebaliknya, perempuan cenderung merasa lebih bertanggung jawab terhadap keluarga asal mereka.

4. Kurangnya Rasa Tanggung Jawab atau Empati
Ada juga kasus di mana anak laki-laki merasa kurang terikat secara emosional dengan orang tua mereka, terutama jika hubungan dengan ibu atau ayah tidak hangat selama masa kecil. Hal ini bisa membuat mereka lebih cuek atau bahkan menghindar dari tanggung jawab.

5. Beban Ekonomi dan Psikologis
Banyak perempuan merasa tidak punya pilihan selain mengambil alih tanggung jawab karena saudara laki-laki sering kali tidak memberikan dukungan, baik secara finansial maupun emosional. Hal ini sering menambah beban bagi perempuan yang sudah memiliki tanggung jawab besar lainnya.

6. Ego dan Penghindaran Konflik
Beberapa anak laki-laki mungkin merasa bahwa ikut merawat akan membuat mereka kehilangan waktu, kebebasan, atau prestise mereka. Selain itu, mereka mungkin menghindari konflik keluarga dengan cara membiarkan saudara perempuan mengambil alih semuanya.

Solusi atau Refleksi

1. Pendidikan sejak Dini
Penting untuk mendidik anak laki-laki dan perempuan secara setara, mengajarkan bahwa merawat orang tua adalah tanggung jawab bersama.

2. Komunikasi dalam Keluarga
Membuka dialog antara saudara kandung untuk membagi tanggung jawab secara adil, baik dalam aspek finansial maupun perawatan fisik.

3. Kesadaran Individu
Anak laki-laki perlu menyadari bahwa merawat orang tua bukan hanya tugas saudara perempuan, tetapi kewajiban moral setiap anak.

4. Dukungan dari Luar
Jika situasi menjadi terlalu berat, meminta bantuan dari layanan perawatan lansia atau komunitas bisa meringankan beban.

Dan detik ini saya masih berjuang merawat ibu saya seorang diri dengan kondisi fisik saya yang juga tidak bisa dikatakan sehat, karena sebelum merawat ibu yang jatuh sakit stroke saya sudah lima kali operasi dan penyakit itu belum sembuh sepenuhnya.

Saya berharap kakak laki-laki saya sadar akan tanggung jawab serta kewajiban dia sebagai seorang anak sesuai dengan aturan agama Islam bahwa merawat dan menafkahi orang tua lansia adalah kewajiban seorang anak laki-laki sampai akhir hidupnya, sementara anak perempuan hanya sekedar membantu bukan kewajibannya. 

Walaupun demikian, saya sedang berupaya untuk meluaskan hati dan mengikhlaskan diri merawat ibu sekalipun fisik dan mental saya sudah sangat kelelahan. 

Artikel Pribadi.

By Nurish Hardefty 



Comments

Popular posts from this blog

"Pajak Tinggi, Tapi Rakyat Indonesia Masih Menderita: Mengapa Indonesia Tidak Sejahtera Seperti Negara Lain?"

Pajak Tinggi, Tapi Rakyat Menderita: Mengapa Indonesia Tidak Sejahtera Seperti Negara Lain? Indonesia adalah negara dengan sistem perpajakan yang cukup ketat . Dari pajak penghasilan, PPN, pajak kendaraan, hingga PBB, rakyat dibebankan berbagai jenis pajak untuk mengisi kas negara . Sayangnya, meskipun pajak terus meningkat, layanan yang diterima rakyat tidak sebanding. Jika dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Norwegia, Swedia, atau Jerman , yang juga memiliki pajak tinggi, rakyat mereka justru menikmati pendidikan gratis, layanan kesehatan berkualitas, dan jaminan sosial yang kuat. Lalu, mengapa di Indonesia pajak tinggi tetapi kesejahteraan rakyat masih jauh tertinggal? --- 1. Pajak Tinggi di Indonesia, Tapi Ke Mana Uangnya? Di banyak negara maju, pajak yang tinggi digunakan untuk membiayai layanan publik. Namun, di Indonesia, meskipun rakyat membayar banyak pajak, mereka masih harus membayar sendiri pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan lainnya. Beberapa fakta ...

Siapa Negara Penghasil Nikel Terbesar ?

Negara-negara dengan sumber daya alam (SDA) nikel paling banyak di dunia bisa dilihat dari cadangan nikel terbukti dan juga produksi tahunan nikel. Berikut adalah daftar negara dengan cadangan nikel terbanyak (data per 2024): 🌍 Negara dengan Cadangan Nikel Terbanyak (Estimasi dalam juta ton) 1. Indonesia 🇮🇩 Cadangan: ±21 juta ton Keterangan: Merupakan produsen dan eksportir nikel terbesar dunia. Banyak digunakan untuk industri baterai kendaraan listrik. 2. Australia 🇦🇺 Cadangan: ±20 juta ton Keterangan: Memiliki cadangan besar tetapi tidak sebanyak Indonesia dalam produksi tahunan. 3. Brasil 🇧🇷 Cadangan: ±16 juta ton Keterangan: Banyak proyek tambang besar sedang dikembangkan. 4. Rusia 🇷🇺 Cadangan: ±7 juta ton Keterangan: Punya perusahaan besar seperti Norilsk Nickel. 5. Filipina 🇵🇭 Cadangan: ±4,8 juta ton Keterangan: Eksportir utama ke China, namun mengalami isu lingkungan. 6. Kuba 🇨🇺 Cadangan: ±5 juta ton Keterangan: Salah satu pemasok penting untuk pasar global. 7. K...

Cinta Yang Ingin Kuteriakkan

By Nurish Hardefty  Ada cinta yang ingin kuteriakkan, tapi tertahan di antara tanggung jawab dan luka yang tak sempat kupulihkan. Bibirku bisu oleh ego, padahal hatiku menjerit, ingin dipeluk oleh seseorang yang mengerti rintih paling dalam itu. Sayang, andai kau tahu… bukan karena aku tak ingin mencintai, tapi karena aku takut mencintaimu lebih dari diriku sendiri. Aku lelah. Bukan pada cinta, melainkan pada hidup yang menolak memberi aku ruang untuk merasa bahagia sepenuhnya. Ada ibu yang sakit, ada tugas yang tak bisa kupaksa lenyap, sementara hasratku menjadi perempuan yang dicintai terus mengecil, tenggelam dalam rutinitas yang tak manusiawi. Haruskah aku memilih? Diriku sendiri, atau pengorbanan ini? Ataukah, tetap terdiam dalam dilema yang tak kunjung usai, dan membiarkan hatiku perlahan mati dalam senyuman yang dibuat-buat tiap pagi? --- The love I want to shout By Nurish Hardefty  There is a love that I want to cry out, but was held back between responsibilities and w...